mentayapos.co.id

Terkini Mengabarkan

Kurangnya Kesadaran Warga, Budaya Gotong Royong di Lingkungan Hidup Kian Memudar

oplus_2

MENTAYAPOS.CO.ID, PALANGKA RAYA – Budaya gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia kini dinilai mulai mengalami penurunan. Kurangnya kesadaran sebagian warga terhadap kebersihan dan kepedulian lingkungan menjadi sorotan, terutama di kawasan permukiman dan perumahan padat penduduk. 15/2/2026.

Kegiatan perum  Casadova blok D-G  kelurahan Menteng kecamatan Jekan Raya  kota Palangka Raya Kalimantan Tengah.

Kondisi ini terlihat dari minimnya partisipasi warga dalam kegiatan kerja bakti, pembersihan drainase, hingga penanganan sampah rumah tangga, rumput di jalan depan rumah warga Padahal, semangat kebersamaan dan gotong royong merupakan warisan nilai luhur bangsa yang telah mengakar sejak lama.

” Jumlah warga blok D-G 93 KK terdiri dari 13 KK blok G dan  80 KK blok D, dari 93 KK itu 10 rumah tak berpenghuni alias tidak ditempati 8 rumah penyewa rumah aktif 71 rumah KK di huni . 93 KK,  jiwa gotong royong secara fisik 11 KK  bantuan  4 KK  Sakit 1 KK, tugas luar  3 KK , yang tidak  ada samasekali kesadaran nya  72 kk, kalo aku menilai ada sumber sengaja cuek  karena di grup mereka sudah tau – 4, ada satu rumah yang sering komen aja tapi tidak terbukti kerjanya diam aja dirumah.” Ucap tatuha gotong royong.

Salah satu  warga menilai, perubahan pola hidup yang semakin individualistis menjadi salah satu faktor melemahnya budaya tersebut. Kesibukan pekerjaan, penggunaan media sosial, hingga kurangnya kepedulian sosial membuat sebagian warga cenderung menyerahkan urusan kebersihan sepenuhnya kepada pemerintah.

“Gotong royong bukan hanya soal membersihkan lingkungan, tetapi membangun rasa kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Jika ini hilang, maka yang rusak bukan hanya lingkungan, tetapi juga ikatan sosial masyarakat,” ujar salah satu warga setempat.

Saat gotong royong warga blok D-G.

Akibat kurangnya kesadaran bersama, berbagai persoalan lingkungan mulai bermunculan, seperti saluran air tersumbat, tumpukan sampah liar, hingga meningkatnya risiko banjir saat musim hujan jalan tumbuh rumput subur di badan jalan depan rumah warga.

Budaya gotong royong bukan sekadar tradisi, melainkan fondasi kekuatan sosial. Ketika warga kembali bersatu menjaga lingkungannya, maka kebersihan, kesehatan, dan keharmonisan hidup akan tercipta secara berkelanjutan. (red/ Marl).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini