mentayapos.co.id

Terkini Mengabarkan

RITUAL TIWAH KELUARGA BESAR UPUN GAWI: WUJUD BAKTI UNTUK 6 LIAU MENUJU LEWU TATAU

Mentayapos.co.id // TAHAWA, PULANG PISAU – Keluarga Besar Upun Gawi melaksanakan Ritual Tiwah untuk 6 orang almarhum (Liau) di Desa Tahawa, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Sabtu (12/9/2026). Ritual sakral agama Hindu Kaharingan tersebut telah memasuki prosesi puncak tabuh.

Tidak bisa dipungkiri beragam tradisi atau ritual bahkan dunia supranatural di tanah Dayak memiliki kekhasan tersendiri.

Seperti halnya ritual atau upacara Tiwah Keagamaan Hindu Kaharingan, tentu menjadi kebanggaan bagi suku Dayak karena hingga kini mampu dipelihara dan dilestarikan bahkan dijaga secara berkelanjutan, terutama oleh umat Kaharingan.

Ketua Panitia Penyelenggara (Upun Gawi), Ito Madag mengungkapkan bahwa Tiwah merupakan ritual kematian paling penting dalam agama Hindu Kaharingan. Bagi masyarakat Dayak, ritual ini bukan sekadar pemakaman, melainkan perjalanan spiritual untuk mengantarkan roh leluhur menuju alam keabadian yang disebut Lewu Tatau agar dapat hidup tenang dan bahagia. Ritual sarat makna ini dihiasi ornamen khas Dayak yang menciptakan suasana sakral.

Pelaksanaan ritual melibatkan seluruh anggota keluarga besar yang memiliki peran masing-masing, mulai dari persiapan hingga pelepasan roh, serta mendapat dukungan aktif masyarakat sekitar Desa Tahawa sebagai wujud nyata nilai gotong royong dan kebersamaan, tuturnya.

Rangkaian prosesi dipusatkan di tempat khusus yang telah disiapkan di Desa Tahawa. Puncak tabuh ditandai dengan penyembelihan 1 ekor kerbau pada Sabtu (12/9) dan 2 ekor kerbau pada Minggu (13/9). Waktu pelaksanaan Tiwah sendiri menyesuaikan kesiapan batin dan finansial keluarga.

Selain sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan tanda terima kasih atas jasa serta pengorbanan leluhur, Tiwah menjadi momen mempererat tali persaudaraan keluarga besar, memperkuat identitas budaya Dayak, serta mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam dan siklus kehidupan, ucapnya.

Ito Madag, menegaskan bahwa Tiwah adalah amanah yang harus dijaga agar tidak terputus oleh perubahan zaman.

“Bagi kami, Tiwah adalah Ritual Keagamaan Hindu Kaharingan. Tiwah ini adalah bentuk penghormatan kepada orang tua dan leluhur agar perjalanan mereka menuju Lewu Tatau berlangsung dengan baik. Kami juga ingin anak cucu tetap mengenal dan mencintai budaya agama Kaharingan yang diwariskan para pendahulu. Tiwah di harapkan dapat berjalan dengan baik dan lancar, ” ujarnya.

Ketua Majelis Agama Hindu Kaharingan Kabupaten Pulang Pisau, Berson, S.Ag., menambahkan bahwa Tiwah bukanlah budaya, melainkan tradisi keagamaan Hindu Kaharingan yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan filosofi kehidupan. Tabuh adalah bagian dari tahapan panjang pelaksanaan Tiwah Massal. Tabuh itu sendiri adalah proses penombakan hewan yang dilakukan sebelum puncak ritual Tiwah.

“Tiwah adalah identitas masyarakat Dayak dan bagian dari kekayaan keagamaan Hindu Kaharingan di Kalimantan Tengah yang harus terus kita jaga bersama. Di dalamnya ada nilai penghormatan kepada leluhur, gotong royong, persaudaraan, dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan di masyarakat kita,” ucapnya. (Sabtu, 12/9/2026)

Dari banyaknya tahapan-tahapan pelaksanaan Tiwah Massal selama ini sambung Berson, S.Ag, maka tahapan atau prosesi Tabuh adalah tahapan atau prosesi yang banyak menarik minat masyarakat untuk menyaksikannya.

Dengan terlaksananya Tiwah ini tambah dia, Keluarga Besar Upun Gawi tidak hanya telah menunaikan janji bakti kepada leluhur, tetapi juga telah berkontribusi nyata dalam menjaga kelestarian tradisi keagamaan Hindu Kaharingan agar tetap hidup, relevan, dan menjadi kebanggaan bagi generasi Dayak di masa depan.

(Desi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini