Sumpah Setia Masyarakat Suku Dayak kepada Pemerintah Republik Indonesia: Sebuah Kisah Heroik dari Yogyakarta, 1946
Gubernur Kalimantan Tengah yang Ke-2, Anakletus Tjilik Riwut
Mentayapos.co.id // Yogyakarta, 17 Desember 1946 – Sebuah peristiwa bersejarah yang mengukuhkan kesetiaan dan dukungan penuh masyarakat adat Dayak kepada Pemerintah Republik Indonesia terjadi di Yogyakarta. Tujuh pemuda perwakilan 142 suku Dayak dari Kalimantan (mewakili sekitar 185.000 jiwa) secara resmi menyampaikan Sumpah Setia Masyarakat Suku Dayak Pedalaman Kalimantan kepada Pemerintah Republik Indonesia dalam sebuah upacara adat yang penuh makna.
Pelaksanaan dan Makna Upacara Sumpah Setia
Upacara sakral ini dipimpin langsung oleh Tjilik Riwut, bersama Reinout Sylvanus dan lima pemuda Dayak lainnya. Mereka berdiri menghadap matahari terbit di halaman depan Istana Presiden Yogyakarta. Sebelum upacara dimulai, Tjilik Riwut menaburkan beras kuning ke segala arah. Tindakan ini merupakan permohonan kepada Hatalla Raja Tuntung Matanandau Kanaruhan Tambing Kabanteran Bulan (Allah Yang Maha Kuasa) agar menyaksikan jalannya sumpah.

Perlengkapan upacara meliputi mandau, rotan, beras, kunyit, minyak kelapa bulan, mangkuk, kayu, abu, jarum, garam dapur, dan lamiang/lilis. Upacara harus dilaksanakan pada pagi hari di tempat terbuka, di bawah langit, melambangkan kesungguhan dan agar disaksikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bagian inti dari sumpah ini melibatkan ritual Tetek Uei atau Potong Rotan. Sebelum rotan yang dipegang dipotong dengan Mandau Pusaka, para pemuda mengucapkan janji untuk bersedia menanggung risiko. Mereka menyatakan bahwa jika mengingkari sumpah, nasib mereka akan seperti rotan yang terpotong dan terbelah dua, yang berarti nyawa terpisah dari raga atau meninggal mendadak. Selain itu, mereka tidak akan pernah menikmati kesejahteraan hidup dan akan terkutuk. Sebaliknya, jika sumpah ditepati, rezeki akan melimpah, hidup sejahtera, dan umur panjang akan menyertai.

Sumpah setia ini diucapkan dalam Bahasa Dayak Kuno (Bahasa Sangen), dengan inti makna: “Apabila yang bersumpah mengingkari sumpahnya, maka terkutuklah ia. Namun apabila sumpah yang telah diucapkan ditepati, maka rezeki akan melimpah, sejahtera, dan umur panjang.” Tekad nenek moyang, “Ang Kajori Doha Ike Bahondang, Ike Cheam Aro Ang Kajipon” (Selama darah kami masih merah, kami tidak mau dijajah) dan “Ara Marop” (Pantang Menyerah), menjadi landasan kuat upacara ini.
Setelah rotan terbelah dua, upacara dilanjutkan dengan para pemuda membalikkan badan menghadap matahari terbenam. Tjilik Riwut menebarkan abu, garam, dan beras kuning ke arah belakang mereka yang bersumpah. Ini melambangkan bahwa jika mereka mengingkari sumpah, nasib mereka akan seperti abu yang lenyap tertiup angin dan menguap bagai garam.
Pengakuan Pemerintah dan Pesan Tjilik Riwut
Penyampaian Sumpah Setia ini diterima langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Wakil Presiden Republik Indonesia, para Menteri, para Gubernur, serta disaksikan oleh Gubernur Kalimantan (Borneo) pertama, Ir. Pangeran Mohamad Noor beserta staf, wartawan, dan pegawai Kantor Gubernur Kalimantan yang berada di Yogyakarta.

Nila Riwut, dalam “Peteh Kemerdekaan HUT Republik Indonesia ke-76,” mengutip pernyataan Tjilik Riwut: “Bahwa suku Dayak telah melaksanakan Sumpah Setia, menurut adat leluhur suku Dayak kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia, menyatakan diri Setia dan Berdiri di belakang Repoeblik Indonesia.”
Tjilik Riwut senantiasa mendorong masyarakatnya untuk menjunjung tinggi Tatu Hiang (Nenek Moyang), karena mengenang leluhur berarti tidak melupakan asal-usul, yang pada akhirnya akan menumbuhkan jati diri sejati. Ia merumuskan prinsip hidup yang disebut JITE KEBA, yang merupakan akronim dari Jujur, Ikhlas, Tekun, Konsekuen, dan Ela Balecak (jangan sombong). Keba sendiri bermakna pengungkapan dan keberanian menunjukkan identitas diri.

Pesan Tjilik Riwut kepada generasi penerus adalah pentingnya memahami sejarah dan budaya leluhur. Ia berharap agar mahasiswa/i Universitas Palangka Raya dan seluruh generasi muda terus menyelami kekayaan leluhur mereka, sebab bangsa yang tidak mengenal sejarah tidak akan terkenal.
Fondasi Budaya dan Sejarah untuk Keutuhan Bangsa
Peristiwa Sumpah Setia ini menjadi bukti nyata bahwa budaya adalah perekat dan sejarah adalah fondasi bangsa. Untuk menjaga keutuhan NKRI serta persatuan dan kesatuan antar etnis, Tjilik Riwut menekankan pentingnya menanamkan pelajaran sejarah dan pemahaman budaya lokal di hati sanubari generasi penerus sejak di bangku sekolah dasar. Kisah ini menjadi pengingat akan komitmen kuat masyarakat Dayak dalam mendukung kemerdekaan dan keutuhan Indonesia.
Publikasi: aldio
Sumber arsip: Folks of Dayak
Tinggalkan Balasan