Pemprov Kalteng Soroti Krisis Polusi Plastik, Targetkan Nol Sampah di TPA pada 2029
Plt. Sekda, Leonard S. Ampung, pimpin Apel Hari Lingkungan Hidup se-Dunia
Mentayapos.co.id // Palangla Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dengan menggelar Apel Bersama dan Sarasehan di Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng, Rabu (11/6/2025). Apel yang dipimpin oleh Plt. Sekretaris Daerah Leonard S. Ampung ini menjadi momentum penekanan serius terhadap ancaman polusi plastik yang kian mendesak.
Dalam sambutannya, Leo menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan moral dan seruan aksi kolektif untuk menyadarkan masyarakat akan urgensi isu lingkungan. Mengutip tema global “Hentikan Polusi Plastik,” ia menyebutnya sebagai wujud tanggung jawab kolektif dalam menjawab tantangan utama planet, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi yang saling berkaitan.
“Polusi plastik adalah bom waktu ekologis,” ujar Leo. Ia menyoroti fakta bahwa produksi plastik global mencapai lebih dari 400 juta ton setiap tahun, namun kurang dari sepuluh persen yang berhasil didaur ulang. Akibatnya, sisanya mencemari tanah, sungai, laut, bahkan telah terdeteksi dalam rantai makanan manusia.
Data nasional menunjukkan bahwa total timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 56,6 juta ton, dengan sekitar 10,8 juta ton atau hampir 20 persen di antaranya adalah sampah plastik. Ironisnya, hanya 39,01 persen yang terkelola secara layak, sementara sisanya berakhir di TPA open dumping, dibakar terbuka, atau mencemari lingkungan. “Tanpa upaya luar biasa, pada tahun 2028, seluruh TPA di Indonesia diproyeksikan akan penuh dan tidak lagi mampu menampung sampah,” imbuhnya, memberikan gambaran krisis yang akan datang.

Peserta Apel
Menyikapi kondisi ini, Pemerintah Indonesia telah menegaskan target besar 100 persen pengelolaan sampah pada tahun 2029. Kalteng juga akan berperan aktif dalam upaya global. Leo mengungkapkan bahwa pada Agustus mendatang, Indonesia akan hadir dalam forum INC-5.2 di Jenewa, sebuah perundingan krusial untuk menyusun konvensi global yang mengikat secara hukum dalam menghentikan polusi plastik.
“Kami mendorong keadilan lingkungan, akuntabilitas produsen global, dan dukungan nyata bagi negara berkembang,” tegas Leo. Ia menegaskan posisi Indonesia sebagai “pemimpin solusi” dalam penanganan isu pencemaran global, bukan sekadar korban.
Dalam kesempatan tersebut, Leo juga menyampaikan harapan besar kepada generasi muda untuk menjadi pelopor gaya hidup minim plastik. Ia mengajak mereka untuk secara aktif membawa botol minum sendiri, menolak sedotan plastik, menggunakan tas belanja sendiri, memilih produk lokal berkelanjutan, serta mengelola sampah dan mengedukasi lingkungan melalui media sosial. “Setiap langkah kecil akan menciptakan gelombang perubahan besar,” pungkasnya.
Apel dan sarasehan ini turut dihadiri oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Herson B. Aden, sejumlah Kepala Perangkat Daerah, serta Rektor Universitas Palangka Raya, menunjukkan komitmen lintas sektor dalam isu lingkungan hidup di Kalteng.
Publikasi: aldio
Tinggalkan Balasan