mentayapos.co.id

Terkini Mengabarkan

Prosesi Tabuh Menjadi Puncak Sakral Ritual Tiwah Umat Hindu Kaharingan di Palangka Raya

Ritual Tiwah di Palangka Raya memasuki puncak acara melalui prosesi tabuh yang menjadi bagian penting dalam tradisi Hindu Kaharingan. 

Mentayapos.co.id // Palangkaraya – Ritual Tiwah sebagai salah satu tradisi sakral masyarakat Dayak penganut Hindu Kaharingan di Kota Palangka Raya memasuki puncak pelaksanaan pada Minggu (12/7/2026) dan Senin (13/7/2026). Pada dua tahapan utama tersebut, keluarga besar R. Simpei selaku Upun Gawi atau penyelenggara ritual mengorbankan 15 ekor hewan, terdiri atas 14 kerbau dan satu ekor sapi.

Prosesi tabuh kedua berlangsung pada Minggu dengan tujuh ekor kerbau sebagai hewan kurban. Sementara itu, tabuh ketiga yang digelar sehari kemudian menggunakan tujuh ekor kerbau dan satu ekor sapi.

Ritual tersebut menjadi bagian penting dalam rangkaian Tiwah, yaitu upacara adat untuk mengantarkan roh anggota keluarga yang telah meninggal menuju Lewu Tatau, tempat yang diyakini sebagai alam keabadian dalam ajaran Hindu Kaharingan.

Prosesi Tabuh Menjadi Puncak Ritual Tiwah

Ketua Panitia, Berly R. Simpei, menjelaskan setiap hewan kurban dipersembahkan oleh keluarga yang melaksanakan Tiwah bagi anggota keluarganya yang telah wafat. Prosesi ini mencerminkan penghormatan terakhir sekaligus wujud bakti kepada leluhur.

Pada tabuh kedua, tujuh keluarga bergantian melaksanakan prosesi persembahan. Salah satunya berasal dari Arton S. Dohong yang mempersembahkan seekor kerbau untuk almarhum Emae Laman. Selain itu, keluarga lain juga mengikuti prosesi sesuai urutan adat yang telah ditetapkan.

Tabuh ketiga melibatkan delapan keluarga. Tujuh keluarga mempersembahkan kerbau, sedangkan satu keluarga mempersembahkan seekor sapi sebagai hewan kurban.

Dalam tradisi Tiwah, keluarga lebih dahulu mengikat hewan kurban pada sapundu, yaitu tiang kayu ulin yang dipahat menyerupai patung. Setelah pemuka adat memimpin ritual, anggota keluarga secara bergantian melakukan penombakan menggunakan tombak adat. Selanjutnya, petugas khusus menyembelih hewan sesuai tata cara yang berlaku dalam tradisi Kaharingan.

Ritual Tiwah Tarik Perhatian Wisatawan Mancanegara

Prosesi Tiwah kembali memperlihatkan kekayaan budaya Dayak di Kalimantan Tengah. Puncak ritual berlangsung khidmat dan menarik perhatian masyarakat hingga wisatawan mancanegara. Sumber: (Istimewa)

Prosesi tabuh menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan wisatawan. Salah seorang wisatawan asal Jerman, Hanno (66), turut menyaksikan seluruh rangkaian kegiatan bersama putrinya, Stella.

Hanno mengaku mengikuti dan mendokumentasikan ritual Tiwah sejak sekitar tiga dekade lalu. Menurutnya, beberapa prosesi memang mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan zaman. Namun, nilai budaya dan spiritualnya tetap terjaga.

“Tradisi ini akan tetap tumbuh dan berkembang, meski harus menyesuaikan dengan perkembangan modern,” ujarnya.

Ia meyakini masyarakat Dayak, khususnya generasi muda penganut Hindu Kaharingan, masih memiliki komitmen kuat untuk menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.

Keberadaan wisatawan mancanegara dalam prosesi Tiwah menunjukkan bahwa budaya lokal Kalimantan Tengah memiliki daya tarik internasional. Selain menjadi bagian dari warisan budaya, ritual ini juga berpotensi memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya apabila terus dilestarikan.

Ritual Tiwah tidak hanya menjadi prosesi keagamaan bagi umat Hindu Kaharingan, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta pelestarian identitas budaya masyarakat Dayak yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

(Sat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini